Showing posts with label Cerpen. Show all posts
cerpen...1609
Saat pertama kali berbicara
dengan Randika, ucapannya
begitu sombong, terkesan
meremehkan orang lain.
Memang wajahnya sangat
tampan, berkulit putih, dan
tinggi atletis. Rambutnya yang
lurus dan hitam berstyle korea
sangat keren di mataku. Tapi
bukan itu yang membuatku
tertarik padanya. Oke, aku tidak
munafik, aku memang suka
wajahnya yang tampan. Tapi aku
lebih suka pada sikapnya yang
sedikit angkuh, penuh percaya
diri, jujur, setia kawan, dan
berpengetahuan luas.
Entah kenapa, baru kali ini aku
sangat nyambung dan nyaman
berbicara dengan cowok.
Rasanya aku ingin terus
mengobrol dengannya, soal apa
saja. Mulai dari obrolan yang
sangat tidak penting, sampai
obrolan yang sedikit penting.
Rasanya waktu di kampus untuk
mengobrol dengannya sangat
sedikit. Aku ingin bertemu setiap
saat, ingin mengobrol setiap
saat.
Saat aku mengirim sms padanya
untuk pertama kalinya,
jantungku berdebar tidak
karuan. Apalagi saat ia
membalas smsku, jantungku
sepertinya hampir melompat
keluar. Meskipun ucapannya
pedas, tapi ia sering
menasihatiku tentang banyak
hal. Seperti misalnya, “Kau tahu,
semua lelaki itu pembohong
besar. Banyak rayuan dan tipu
muslihat. Sebaik-baiknya lelaki,
pasti punya tipu muslihat. Mulut
manis tapi hati berkata lain. Ya
seperti aku aku ini.”
“Yah, aku tahu.” ujarku malas-
malasan.
“Aku serius. Yah, lelaki yang
benar-benar baik memang ada,
tapi sangaaaat jarang. Seperti
temanku, Key.”
Aku tertawa menanggapi.
Menurut Randika, Key yang baik,
pendiam, dan pemalu
menyukaiku. Tapi aku tidak suka
padanya. Tentu saja, saat ini kan
aku sedang tertarik pada
Randika!
“Benar, Key itu baik. Kenapa kau
tidak mencoba dengannya?”
“Sudahlah, jangan bercanda
terus.”
“Coba saja tanya padanya. Atau
kau dekati dia lalu kaulihat apa
reaksinya.”
Aku menatapnya dengan
senyum. “Aku tidak suka
padanya.”
Randika mengangkat bahu.
Aku bersaing secara sportif
dengan Hana, temanku, untuk
memperebutkan Randika. Lucu
sekali….
“Hai, lagi pada ngapain, nih?”
Seorang perempuan datang
mendekat dengan gayanya yang
tomboy dan menyenangkan,
Deswita. Aku, Hana, dan Deswita
berteman dan ia tahu bahwa
aku dan Hana menyukai
Randika. Ia sangat dekat dengan
Randika. Deswita menyayangi
dan memanjakan Randika
seperti adiknya sendiri,
meskipun ia sudah mempunyai
pacar, Farhan namanya. Tapi
terkadang aku melihat Deswita
lebih senang bersama Randika
dibanding dengan pacarnya
sendiri. Tapi tentu saja itu hanya
pikiranku sendiri, karena tidak
ada yang tahu isi hati orang.
Aku dan Hana sangat penasaran
dengan isi hati Randika terhadap
Deswita.
“Aku hanya menganggapnya
kakak.”
“Bohong, ah.” Aku menatap
matanya yang cokelat, mencari
kebenaran.
“Kalian ini, kenapa selalu
menanyakan hal itu terus-
menerus, sih?” Randika tertawa.
“Aku jadi tidak nafsu makan nih.”
“Maaf….”
Randika tertawa. “Aku hanya
bercanda, kok.” Lalu ia
meneruskan makan nasi
gorengnya di kantin yang ramai.
Saat ulang tahun Randika, kami
bertiga; Deswita, aku, dan Hana
merencanakan ulang tahunnya
diam-diam. Membuat pesta
kejutan kecil-kecilan dengan kue
dan kado. Sebenarnya ini
rencana Deswita. Aku dan Hana
hanya memberinya kado
sedangkan Deswita memberi
kado sekaligus kue ulang tahun.
Aku sedikit iri, tapi aku mencoba
menelan rasa iriku itu. Randika
sangat terkejut dan terharu.
Apalagi saat Deswita
memberinya kado. Aku menatap
wajah Randika yang berseri-seri
saat menatap Deswita.
Bebarapa minggu kemudian aku
mendengar kabar bahwa
Deswita putus dengan Farhan,
membuat hatiku was-was. Aku
selalu melihat Randika
menenangkan hati Deswita yang
sedih. Banyak cewek yang
mencemooh Deswita,
mengatakan bahwa Deswita
putus dari Farhan karena
Randika. Tapi aku tidak
memercayainya, karena aku tahu
sifat Deswita. Ia mungkin sedikit
suka pada Randika, tapi itu
bukan cinta. Aku tahu Deswita
memang akrab dengan banyak
lelaki karena itu aku tahu
Deswita tidak menganggap
Randika lebih daripada adik.
“Munafik, Deswita itu cintanya
pada Randika, bukan Farhan.”
ujar Tasya, sahabat Farhan.
“Tidak begitu. Deswita hanya
menganggap Randika adik.”
“Kau temannya, jelas kau
membelanya!”
“Kau juga teman Farhan, jelas
kau membelanya. Mungkin ada
alasan lain kenapa mereka
putus.” Aku menatap kesal pada
Tasya.
Aku kembali bertanya tentang isi
hati Randika. Dan ia tetap
menjawab, “Hanya kakak.”
“Sungguh?”
Ia mengangguk.
“Ada cewek yang kausuka?”
“Tidak ada.”
Aku tersenyum senang
mendengarnya. Tapi entah
kenapa aku begitu polos entah
bodoh percaya saja pada
ucapannya. Karena dua minggu
kemudian (aku baru saja datang
dari kampung
halaman─menghabiskan
liburan) aku mendengar kabar
dari Hana bahwa Randika dan
Deswita jadian. Aku sangat shock
mendengarnya. “Kau bohong,
kan, Na?”
“Aku tidak bohong. Aku tahu
hatimu sangat sakit saat ini. Tapi
kau harus tenang. Deswita tidak
bilang padamu karena ia
menunggu saat yang tepat untuk
mengatakannya padamu. Ia
tidak ingin gara-gara ini kau
memusuhinya.”
“Kau sendiri bagaimana?
Bukankah kau sangat menyukai
Randika?”
“Aku menyukai Randika yang
menyukai Deswita.” ujarnya
tenang.
“Apa maksudmu?” Airmataku
sudah tak terbendung lagi. Mata
juga hatiku terasa panas.
Deswita memegang bahuku
dengan sabar. “Aku sudah punya
feeling dari dulu bahwa Randika
menyukai Deswita. Tapi aku
diam saja, aku tidak ingin
membuatmu putus harapan.
Dengar, Tiwi, kau jangan
mengungkit apa pun pada
Deswita sampai ia sendiri bicara
padamu.”
Aku menggigit bibirku, aku
terisak saat berkata, “aku tidak
mau percaya ini, Na!” Aku
menangis di bahu Hana, lalu ia
menepuk-tepuk bahuku.
***
“Kau pengkhianat.” Aku menatap
benci pada Deswita.
“Maaf…tapi aku tidak
mengkhianati siapa-siapa.”
Deswita menatapku.
“Kaubilang kau tidak
menyukainya! Kaubilang kau
hanya menganggapnya adik! Dan
kau sangat tahu perasaanku
padanya!”
“Tiwi….” Deswita tetap
menatapku. “Aku sudah
berulang kali menolak
pernyataan cintanya, karena aku
hanya menganggapnya adik,
percayalah.”
“Lalu kenapa akhirnya kau
terima cintanya?”
“Ia bilang ingin diberi
kesempatan untuk masa
percobaan….” Deswita
menatapku dengan bola
matanya yang hitam dan
meneduhkan. “Setelah aku
putus dengan Farhan, ia terus
menghiburku. Lalu ia bilang
padaku bahwa ia menyukaiku
sejak pertama kali bertemu,
namun mulai jatuh cinta padaku
saat aku memberinya kue ultah
dan kado. Ia terharu dan salah
paham akan perhatianku itu….”
Deswita tersenyum. “Aku ingin
mencoba mencintainya, Tiwi.”
Aku menarik napas, mencoba
menahan airmataku yang
hampir tumpah. “Baiklah, aku
mengerti.” Lalu aku langsung
pergi meninggalkan Deswita
yang duduk termangu di bangku
taman kampus.
Malamnya aku melihat Deswita
dan Randika berduaan di taman
kampus. Hatiku terasa sakit
melihatnya. Dengan menahan
airmata kuucapkan selamat pada
mereka berdua. Lalu aku permisi
ke kantin. Airmataku kembali
menetes untuk kesekian kalinya.
“Tegar, dong, Tiwi.”
“Aku nggak bisa secepat itu
tegar, Na. Aku ingin pulang
kampung lagi, menenangkan
diri.”
“Pengecut.”
“Apa kaubilang?”
“Jangan lari dari masalah! Kau
harus hadapi kenyataan, kalau
kau kalah bersaing dengan
Deswita. Lagipula…masih banyak
cowok yang jauh lebih baik dari
Randika.”
Aku menatap Hana dengan
pandanganku yang buram
karena airmata. Aku melihatnya
berdiri tenang, mencoba
mencari tahu isi hatinya.
Mungkin ia lebih sakit hati
dariku? Bagaimana ia bisa
bersikap tenang begitu?
Bagaimana cara Hana
menyembunyikan isi hatinya
yang galau? “Butuh waktu untuk
memulihkan rasa sakit hatiku….”
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Lalu keesokannya aku menemui
Deswita. “Kalian memang
pacaran, tapi izinkan aku untuk
menyukai Randika.”
“Tiwi, jangan begitu….”
“Aku takkan mengganggu. Jadi
biarkan aku mencintainya.
Sampai aku menemukan cinta
yang lain.”
“Baiklah, terserah kau saja.”
ucap Deswita akhirnya, dengan
sedikit rasa cemburu.
Aku tersenyum. Lalu aku permisi
ke kantin untuk membeli es teh
manis, sekedar menghilangkan
kegugupanku. Di sana aku
bertemu Randika yang sedang
makan siang.
“Kau belum pedekate juga pada
Key?”
“Ah…aku malas untuk
berpacaran….” dalihku.
“Sekarang ini ada lelaki yang
sedang menyukaimu dan
mengharapkanmu. Kenapa tidak
menyambutnya? Nanti giliran
kau mulai menyukai Key, Key
malah berpaling pada cewek lain
dan meninggalkanmu.”
“Sadis sekali kata-katamu.” Aku
agak takut juga mendengar
nasihatnya.
Randika tertawa. “Percayalah
padaku.”
“Aku tidak ingin terburu-buru…
biar waktu yang menjawab,
Dika.”
Randika mengangkat bahu lalu
melanjutkan makannya. Aku
tersenyum memerhatikan
Randika yang makan. “Apa, lihat-
lihat? Sana pergi, ganggu orang
makan saja.” Randika pura-pura
mengusirku. Aku tertawa lalu aku
pergi meninggalkannya menuju
kelas untuk kuliah.
Tidak apa-apa kan jika aku
mencintai Randika? Mungkin aku
bodoh, tapi saat ini aku masih
ingin mencintainya, masih ingin
mengobrol dan bercanda
dengannya, menikmati
ucapannya yang pedas serta
nasihat-nasihatnya yang
meyakinkanku….
karya: Wida Silva Prameswari
Subscribe to:
Posts (Atom)